Minggu, 13 Agustus 2017

Sejarah Kisah Hidup Gajah Mada – Tokoh Kerajaan Majapahit

Garasisejarah - Sejarah kisah hidup Gajah Mada sebagai seorang sosok yang berpengaruh dimulai kira-kira tahun 1313, dan berdasarkan manuskrip, puisi, dan mitologi dari tanah Jawa, Gajah Mada merupakan seorang panglima perang yang sangat berpengaruh di kerajaan Majapahit pada zaman itu. Kejadian yang menjadikannya patih adalah ketika Sri Jayanagara memerintah. Dilanjutikan pada masa Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi, Gajah Mada menanjaki tangga jabatannya lagi dan diangkat menjadi Mahapatih. Kedudukan tertinggi yang pernah ia pegang adalah Amangkubumi yang setara dengan Perdana Mentri, dimana pada saat ia menjadi Amangkubumi inilah Majapahit ia hantarkan kepada puncak gunung emas kejayaan.


 
Hampir tidak ada yang diketahui tentang sejarah kisah hidup Gajah Mada kecil, selain beberapa tulisan yang menceritakan bahwa ia merupakan anak dari kalangan rakyat jelata. Namun ada beberapa catatan mengenai awal karirnya sebagai Begelen, kepala Bhayangkara yang merupakan tentara elit bertugas untuk menjaga raja-raja serta keluarga dari para raja Majapahit. Suatu ketika, Rakrian Kuti yang merupakan salah satu elit Majapahit merencanakan sebuah pemberontakan terhadap raja Majapahit di tahun 1321, Jayanegara. Hal ini menyebabkan Gajah Mada dan mahapatih masa itu yang bernama Arya Tadah membantu sang Raja bersama keluarganya untuk kabur menuju ibukota Trowulan. Beberapa saat setelah kejadian itu, Gajah Mada kembali ke kerajaan dan membantu mengakhiri pemberontakan oleh Ra Kuti sehingga ia mendapatkan gelar Patih.

Ada beberapa sumber yang menceritakan masa akhir pemerintahan Jayanegara sebelum akhirnya digantikan oleh Tribhuwana. Satu versi mengatakan bahwa Jayanegara dibunuh oleh Rakrian Tanca yang pada masa itu menjabat menjadi tabib kerajaan yang merupakan antek dari Rakrian Kuti. Versi lainnya yang tertulis dalam Negarakertagama dan dipastikan kebenarannya lewat beberapa prasasti yang ada pada abad ke-13 dan awal abad ke-14, menyatakan yang membunuh Jayanegara adalah Gajah Mada dan hal itu terjadi pada tahun 1328. Dalam tulisan di prasasti dan Negarakertagama, diceritakan bahwa Jayanegara amat berlebihan dalam hal proteksi terhadap dua adiknya yang lahir dari ratu termuda Kertarajasa yaitu Dyah Dewi Gayatri. Komplain yang datang dari kedua putri muda ini menuntun kepada intervensi Gajah Mada dimana ia mengambil solusi yang drastis, yaitu memerintahkan seorang ahli bedah untuk membunuh sang raja sambil berpura-pura sedang melakukan operasi penting.

Sejarah kisah hidup Gajah Mada sebagai Mahapatih dimulai pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Tepatnya tahun 1329, Arya Tadah yang masih duduk di posisi Mahapatih menyatakan bahwa ia ingin mengundurkan diri, dan menunjuk Gajah Mada sebagai penerusnya. Hal ini tidak langsung disetujui oleh Gajah Mada sendiri, karena ia berpikir bahwa jasanya kepada Majapahit belum cukup, dan demi hal itu ia berjanji untuk menghentikan terlebih dahulu pemberontakan yang sedang terjadi yang didalangi oleh Keta dan Sadeng. Benar saja, tak butuh waktu lama, Keta dan Sadeng langsung tunduk, membuat Gajah Mada akhirnya diangkat sebagai Mahapatih secara resmi oleh Tribhuwana pada tahun 1334.

Mungkin salah satu hal yang paling bisa diingat tentang Gajah Mada dan Majapahit adalah sumpah yang disuarakan olehnya yaitu sumpah Palapa. Sumpah ini disuarakan oleh Gajah Mada pada saat ia diangkat menjadi Amangkubumi di tahun 1336. Isi dari sumpah tersebut adalah bagaimana Gajah Mada tidak akan mengecap “rempah” sebelum Nusantara berhasil ditundukkan. Sumpah ini memiliki banyak makna, dan arti sesungguhnya hanya Gajah Mada yang tahu. Beberapa orang menganggap bahwa Gajah Mada tidak akan memperbolehkan makanannya diberikan rempah apapun (pala apa = rempah apapun). Beberapa orang lain juga menganggap sumpah ini berarti Gajah Mada tidak akan mencicipi kenikmatan dunia berbentuk apapun sebelum ia berhasil menaklukkan seluruh daerah di kepulauan yang kelak menjadi Indonesia tersebut.

Perjalanan hidup Gajah Mada mencapai puncaknya ketika ia berhasil memenuhi sumpah Palapa yang bahkan diragukan oleh teman-teman dekat dari Gajah Mada sendiri. Meski begitu, ia berhasil menepis ketidak percayaan orang-orang yang menganggapnya terlalu ambisius dengan pertama menaklukkan Bedahlu di Bali dan Lombok pada tahun 1343. Setelah mengurus kedua area baru itu, ia mengirim pasukan laut ke arah barat untuk menyerang sisa-sisa kerajaan maritim Sriwijaya yang ada di Palembang. Ia juga menempatkan Adityawarman yang saat itu merupakan pangeran dari Majapahit untuk menjadi pemimpin daerah jajahan di Minangkabau, Sumatra Barat. Penundukkan yang ia lakukan berlanjut hingga kesultanan pertama di Asia Tenggara, yaitu Samudra Pasai. Gajah Mada juga berhasil menundukkan Bintan, Tumasik (Singapura), Melayu, dan Kalimantan.

Ketika Tribhuwana mengundurkan diri sebagai ratu, anaknya yang bernama Hayam Wuruk naik tahta menjadi raja, dan Gajah Mada tetap ditunjuk sebagai Amangkubumi. Di bawah pemerintahan raja yang baru, Gajah Mada berhasil menundukkan Logajah, Seram, Gurun, Sasak, Buton, Hutankadali, Banggai, Kunir, Salayar, Galiyan, Solor, Bima, Banda, Sumba, Dompo, Ambon, dan Timur. Dengan begini, ia juga berhasil mencapai janjinya dan membentuk purwarupa daerah Indonesia modern ditambah dengan Temasek (sekarang Singapura), Malaysia, Brunei, Timor Timur, dan Filipina bagian selatan.

Sejarah kisah hidup Gajah Mada menginspirasi banyak hal kepada nasionalisme bangsa Indonesia. Soekarno juga sering mengutip kata-kata Gajah Mada yang ia nilai adalah sebuah inspirasi dan bukti sejarah kejayaan Indonesia. Nama Mahapatih yang satu ini juga diabadikan sebagai nama jalan di beberapa daerah di Indonesia dan sebagai nama salah satu universitas di Yogyakarta. Dalam kultur pop, sosok Gajah Mada sendiri bisa ditemui pada permainan video yang berjudul Sid Meier’s Civilization V sebagai pemimpin peradaban Indonesia.

Sekian informasi singkat mengenai Sejarah Kisah Hidup Gajah Mada – Tokoh Kerajaan Majapahit, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua mengenai sosok pahlawan nasional yang dalam sejarah kepemimpinannya memberikan banyak inspirasi buat kita generasi muda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel kami, baca juga artikel menarik dari dunia sejarah lainnya hanya di Garasi Sejarah...



 

Sabtu, 12 Agustus 2017

Sejarah Singkat Kisah Hidup Jokowi – Presiden Indonesia ke-7

Garasisejarah - Sejarah perjalanan hidup Jokowi dimulai ketika beliau dilahirkan dengan nama kecil Mulyono. Jokowi merupakan lulusan Fakultas Kehutanan di Unviersitas Gajah Mada, dan melanjutkan hidupnya dengan menjadi pengusaha mebel. Baru pada tahun 2005-lah karirnya sebagai politisi dimulai dengan terpilihnya ia menjadi Walikota Surakarta, dan namanya sendiri mulai lekat pada hati masyarakat sebagai seorang yang berhasil dan mampu mengubah Surakarta menjadi kota batik, budaya, dan pariwisata. Karir politiknya memasuki babak baru ketika pada 20 September 2012, beliau berhasil terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta yang ke-16 setelah berhasil mengalahkan saingannya dalam Pilkada tahun itu. Pada tahun 2014, Jokowi mencalonkan diri sebagai calon presiden dan berhasil memenangkan suara terbanyak, menyebabkan terpilihnya ia menjadi presiden Indonesia yang ke-7, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono yang telah memerintah selama dua periode.

garasigaming.com

Sejarah Hidup Jokowi Mulai dari Masa Kecilnya

Kisah hidup Jokowi dimulai saat ia dilahirkan dari pasangan yang bernama Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo. Jokowi kecil merupakan anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya, menjadi kakak dari tiga adik perempuannya yang bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati. Ayahnya adalah orang Karanganyar, dan kakek-neneknya berasal dari desa yang ada di Boyolali. Pendidikan yang ditempuh Jokowi kecil bukan merupakan sebuah pendidikan di sebuah sekolah elit, malah ia masuk ke sebuah SD bernama SD Negeri 111 Tirtoyoso, sebuah sekolah yang terkenal menjadi sekolah kalangan orang-orang menengah ke bawah. Hidup Jokowi kecil jauh dari kata-kata kaya dan nyaman, karena ia diharuskan untuk berdagang, menjajakan ojek payung, atau bahkan menjadi kuli panggul. Semua itu ia lakukan agar ia bisa membeli peralatan sekolahnya sendiri, sekaligus agar ia bisa mendapatkan uang jajan.

Kesederhanaan Jokowi kecil bisa dilihat dari kebiasaannya pergi ke sekolah, dimana saat teman-temannya menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah, Jokowi kecil lebih memilih untuk berjalan kaki. Jokowi memulai pekerjaannya sebagai penggergaji ketika ia berumur 12 tahun, ketika ia sadar bahwa ia memiliki keahlian dalam dunia pertukang kayu-an. Selama masa kecilnya ini Jokowi telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Setelah mengalami sendiri rasanya penggusuran rumah membuat hal ini memengaruhi pola pikir Jokowi dan caranya memimpin ketika ia menjadi Walikota Surakarta saat diharuskan untuk menertibkan pemukiman warga yang ada pada tempat yang tidak seharusnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SD, kisah perjalanannya berlanjut dengan meniti jalur pendidikannya di SMP Negeri 1 Surakarta. Setelah berhasil lulus pendidikan menengah, Jokowi awalnya berniat untuk melanjutkan studi ke SMA Negeri 1 Surakarta yang gagal ia raih sehingga ia memilih untuk masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta. Pendidikan tingkat atas berhasil diselesaikan, dan kini Jokowi kecil bertekad untuk lagi-lagi melanjutkan studi, dan Jurusan Kehutanan dari fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada-lah yang menjadi pilihan utamanya. Dengan kemampuan akademis yang ia miliki, Jokowi akhirnya berhasil meraih kursi di universitas tersebut. Kesempatan itu akhirnya ia pergunakan sungguh-sungguh untuk mempelajari struktur kayu, teknologi, dan pemanfaatannya. Skripsi yang ia tulis sebagai syarat kelulusan pendidikan tingginya berjudul “Studi Tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta”.

Kelulusan Jokowi muda di tahun 1985 menuntunnya untuk bekerja di BUMN, tepatnya di sebuah perusahaan bernama PT Kertas Kraft Aceh, membuatnya ditempatkan di Gayo, Aceh Tengah. Pada tahun 1986, Jokowi muda menikahi Iriana di Solo. Beberapa tahun setelahnya, Jokowi memilih pulang dari Aceh dan kembali ke sisi istrinya yang saat itu tengah hamil tujuh bulan. Setelah keluar dari PT Kertas Kraft Aceh, Jokowi mulai berpikir untuk bergabung dengan usaha milik pamannya yang kebetulan ada di bidang kayu, yaitu CV Roda Jati. Pada tahun 1988, Jokowi memutuskan untuk mencoba peruntungannya dengan membuka usahanya sendiri yang ia beri nama CV Rakabu, nama yang sama dengan anak pertamanya. CV Rakabu sempat menjadi sangat berjaya dalam dunia permebelan, meski begitu perusahaan mebel ini jatuh dan hancur ketika ia dibohongi seorang klien dengan pesanan yang tidak dibayar.

Sejarah singkat kisah hidup Jokowi – presiden Indonesia di bidang politik bermula ketika ia mencalonkan diri sebagai calon walikota Surakarta yang diusung oleh PDI-P dan PKB pada tahun 2005. Pemilihan tersebut berhasil dimenangkan oleh Jokowi yang berhasil memegang angka 36.62%. Setelah akhirnya berhasil terpilih, Solo ia kembangkan dengan pengalaman yang telah ia miliki semasa muda. Ketika ada di bawah pimpinannya, Solo mulai menjadi kajian di universitas-universitas luar negeri dan mulai berubah secara drastis. Pada masa pemerintahannya pula bus Batik Solo Trans diperkenalkan kepada masyarakat. Selain itu, banyak kawasan-kawasan yang diremajakan dan Solo juga mulai menjadi tuan rumah dari banyak acara internasional. Berkat hasil kerjanya, ia berhasil memenangkan lagi pemilu Surakarta pada tahun 2010 dengan total suara yang melebihi 90%. Pada tahun 2012, ia kemudian dicalonkan sebagai calon gubernur DKI Jakarta oleh beberapa politisi PDI-P.

Sejarah hidup Jokowi memasuki babak baru ketika pada tahun 2012 ia diminta menjadi calon gubernur DKI Jakarta oleh Jusuf Kalla secara pribadi. Setelah pemilu periode 1 berakhir dengan kemenangan Jokowi yang tipis dari Fauzi Bowo, pemilu kembali diulang, meski begitu Jokowi kembali memenangkan periode ke-2 dari pilkada ini. Jokowi kemudian dicalonkan menjadi calon presiden oleh PDI-P dan berhasil memenangkan pemilu, membuatnya menjadi presiden ke-7.

Sekian informasi singkat mengenai sejarah dan juga latar belakang kisah hidup Bapak Joko Widodo atau yang biasa kita kenal dengan nama Jokowi ini. Semoga kepemimpinan beliau sebagai presiden Indonesia yang ke-7 dapat membawa kemajuan dan perkembangan untuk bangsa dan rakyat Indonesia 5 tahun ke depan. Baca juga artikel menarik lainnya dari dunia sejarah hanya di Garasi  Sejarah.



 

Jumat, 11 Agustus 2017

Mengungkap Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia Sebenarnya

Garasisejarah - Asal usul mengenai nenek moyang bangsa Indonesia kira-kira dimulai pada jaman prasejarah, sebuah periode di area kepulauan di Indonesia yang berlangsung sejak jaman Pleistocene hingga abad ke-4 ketika masyarakat Kutai membentuk prasasti batu tulis pertama. Tidak seperti bangsa Eropa maupun Timur Tengah yang terlihat jelas perbedaan antara era prasejarah dan era setelahnya, di Indonesia perbedaan ini amat sulit ditelusuri. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kondisi wilayah yang berbentuk kepulauan, dan menyebabkan beberapa bagian terutama pulau yang jauh, menjadi terisolasi. Contoh yang tepat bagi kejadian ini adalah daerah Jawa Barat dan pesisir Kalimantan Timur dimana jaman sejarahnya sudah dimulai sejak abad ke-4, namun kultur megalitik masih berkembang. Orang-orang Papua yang ada di pulau Nugini juga masih tinggal di jaman batu sebelum mereka melakukan kontak dengan dunia modern pada awal abad ke-20. Bahkan hingga kini, tradisi jaman megalitik yang masih ada bisa ditemukan di pulau Sumba dan Nias.


 
Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia harus dimulai dengan penelitian di daerah Indonesia modern, yang secara geologis muncul dari bawah laut Asia Tenggara sebagai hasil bertumbukannya lempeng India dan lempeng Australia, yang meluncur di bawah lempeng Sunda pada era-era awal Cenozoic, sekitar 63 juta tahun yang lalu. Kondisi tektonik ini kemudian membuat lengkung gunung merapi Sunda yang membentuk beberapa kepulauan seperti Sumatera, Jawa, dan kepulauan Sunda Kecil. Lengkung gunung merapi aktif ini kemudian berubah menjadi Danau Toba di Sumatera. Letusan supervolcano Toba yang terjadi sekitar 69.000 hingga 77.000 tahun yang lalu, menyebabkan musim dingin gunung api global.

Kepulauan Indonesia mulai terlihat bentuknya seperti sekarang ini pada periode Pleistocene, yang selama beberapa periode masih menyambungkan Sunda dengan daerah utama Asia dan membentuk ekstensi besar daerah daratan dari Asia Tenggara. Ekstensi yang ada kemudian membuat beberapa binatang asia dan spesies hominid mulai bermigrasi ke daerah tersebut. Pada masa es terakhir yang terjadi sekitar 20.000 hingga 10.000 tahun yang lalu, Bumi mulai mengalami perubahan iklim, terjadinya penghangatan global dengan temperatur yang meningkat di atas rata-rata menyebabkan pelelehan beberapa bongkah es di kutub dan menaikkan volume air. Sunda mulai tenggelam dan terbentuklah selat Malaka, Laut Tiongkok Selatan, Selat Kalimata, dan Laut Jawa. Pada masa itu juga mulai terbentuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau sekitarnya.

Penemuan Fosil Nenek Moyang Indonesia di Berbagai Daerah
 
Asal usul nenek moyang bangsa Indonesia mulai ditemukan pada awal 2007 ketika para arkeolog menganalisa bekas potongan yang ada pada dua tulang bovid yang mereka temukan di Sangiran. Luka tersebut diperkirakan dibuat sekitar 1.5 hingga 1.6 juta tahun yang lalu dengan menggunakan perkakas dari cangkang dan merupakan bukti tertua tentang adanya manusia prasejarah di Indonesia. Fosil sisa tulang belulang dari Homo erectus yang lebih populer dengan nama “Manusia Jawa” ditemukan oleh seorang ahli anatomi dari Belanda yang bernama Eugene Dubois di Trinil pada tahun 1891, berumur paling tidak 700.000 tahun dan merupakan peninggalan dari manusia tertua yang ditemukan pada saat itu. Fosil Homo erectus lainnya dengan umur yang sama berhasil ditemukan di Sangiran pada tahun 1930 oleh ahli antropolg, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang di saat bersamaan menemukan fosil di Ngandong dengan perkakas yang lebih maju berumur sekitar 550.000 hingga 143.000 tahun. Pada tahun 1977, fosil Homo erectus lainnya kembali ditemukan di Sambungmacan.

Pada tahun 2003, ditemukan fosil dari hominid kecil yang berumur sekitar 74.000 hingga 13.000 tahun di pulau Flores yang diberi nama “Manusia Flores” dengan nama ilmiah Homo floresiensis. Hominid berukuran 3 kaki ini diperkirakan adalah spesies turunan dari Homo erectus dan ukurannya berkurang dalam jangka waktu lebih dari seribu tahun karena fenomena alamiah yang disebut pengerdilan oleh pulau, proses yang terjadi ketika sekelompok makhluk hidup tinggal di lingkungan yang kecil, seperti ukuran pulau flores. Manusia Flores diperkirakan berbagi pulau dengan Homo sapiens modern hingga sekitar 12.000 tahun yang lalu sebelum mereka akhirnya punah.

Secara kronologis, asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dimulai pada jaman Paleolitikum ketika Homo erectus diketahui menggunakan perkakas batu paleolitik dan perkakas cangkang yang ditemukan di Sangiran dan Ngandong. Bukti bekas sayatan yang dianalisa dari sebuah fosil mamalia Pleistocene juga mendokumentasikan sekitar 18 bekas sayatan yang disebabkan oleh perkakas yang terbuat dari serpih cangkang tebal terhadap dua tulang belulang bovid, dimana sayatan ini diperkirakan dibuat ketika terjadi pembantaian di Sangiran sekitar 1.6 hingga 1.5 juta tahun yang lalu. Masa ini berlanjut ke era Neolitikum, dimuana perkakas batu asah mulai dikembangkan oleh orang-orang Austronesia di kepulauan Indonesia.

Asal usul mengenai nenek moyang bangsa Indonesia mengakhiri kisahnya di dua masa terakhir, dimana yang pertama adalah masa Megalitikum. Kepulauan Indonesia dikenal juga sebagai rumah bagi megalit dari kultur Austronesia baik di masa lalu atau sekarang. Beberapa situs megalit juga bisa ditemukan di sekitar Indonesia seperti misalnya Menhir, dolmen, tabular batu, patung batu, dan sebuah struktur mirip piramida bernama Punden Berundak di beberapa situs sekitar Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan kepulauan Sunda Kecil. Pada jaman kedua yang bernama jaman Perunggu, kultur Dong Son dari Vietnam tiba di Indonesia membawa serta teknik pembuatan alat menggunakan perunggu, ritual pengorbanan sapi, dan metode sulam ikat. Beberapa kegiatan ini sampai sekarang masih sering digunakan terutama di daerah Sumatra, Sulawesi, dan beberapa pulau di Nusa Tenggara.